Minggu, 31 Mei 2009

Waktu mustajab untuk berdoa

Allah yang Maha kaya telah menentukan segala sesuatu dikaitkan dengan Waktu, termasuk doa. Ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, diantaranya :

1. SEPERTIGA MALAM

Dari Abu Hurairah, Rosulullah SAW barsabda, “Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi, turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa 1/3 akhir malam, lalu berfirman, “Barang siapa yang berdoa akan kukabulkan, barang siapa yang memohon, pasti Aku akan ku perkenankan, dan barang siapa meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya.”
(Shohih Bukhori, kitab Da’awaat, bab doa Nisfullail 7/149-150)

2. KETIKA BERBUKA PUASA

Dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa dia mendenar Rosulullah saw bersabda “Sesungguhnya bagi orang-orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak di tolak.” ( Sunan Ibnu Majah, bab fis shiyam la turoddu Da’watuhu. Hakim dalam kitab Mustadrak).

3. SELESAI SHALAT FARDHU

Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rosulullah saw ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah SWT, beliau menjawab, “ dipertengahan malam yang akhir, dan setiap selesai sholat fardlu” (Sunan at-Tirmidzi bab jami’ud da’awat)

4. KETIKA PERANG BERKECAMUK

Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa Rosulullah saw bersabda, “ada dua waktu doa yang jarang di tolak, doa pada saat adzan dan pada saat perang berkecamuk” (Sunan Abu Daud, kitab Jihad)

5. PADA HARI JUM’AT

Dari Abu hurairoh bahwa Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim sholat dan memohon suatu kebaikan kepada Allah, melainkan akan diberikan kepadanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya Waktu dimaksud” (Shahih Bukhari, kitab Da’awat, Shahih Muslim kitab jumuah)


6. KETIKA BANGUN TIDUR BAGI YANG TIDUR DALAM KEADAAN SUCI

Dari Amr bin ‘anbasah bahwa Rosulullah saw bersabda, “ tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari dan berdoa sesuatu tentang urusan dunia dan akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya (Sunan ibnu Majah, bab Doa)


7. DIANTARA ADZAN DAN IQOMAH

Dari Anas bin Malik bahwa Rosulullah saw bersabda, “Tidak akan ditolak doa diantara adzan dan iqomah” (Sunan Abu Daud, kitab sholat, Sunan at-Tirmidzi bab jami’ud Da’awat, Sunan al Baihaqi kitab sholat)

8. SAAT SUJUD DALAM SHALAT

Dari Ibnu Abbas bahwa Rosulullah saw bersabda, “Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa, sebab saat itu saat tepat untuk dikabulkan ( Shahih Muslim, kitab sholat bab Nahi ‘an qiroatil qur’an fi ruku’ wa sujud )
“ Sedekat-dekat seorang hamba pada Robb nya adalah pada ketika sujud dalam sholat, maka perbanyaklah doa dalam sujud “.

9. SAAT KEHUJANAN

Dari Sahl bin Sa’ad bahwa Rosulullah bersabda “Dua doa yang tak pernah ditolak, Doa pada waktu adzan dan pada saat kehujanan” (Mustadrak Hakim dan dishohihkan oleh adz-Dzahabi)

10. MENJELANG AJAL TIBA

Dari ummu Salamah bahwa Rasulullah SAW mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu ia memejamknnya kemudian bersabda “Sesungguhnya tatkala ruh dicabut maka pandangan mata akan mengikutinya” Semua keluarga histeris. Beliau bersabda, “ Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan” (Shahih Muslim, kitab Janaiz)

11. PADA MALAM LAILATUL QADAR
Allah SWT berfirman, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malikat-malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar,” ( QS Al-Qadar : 3-5 ). Imam asy Syaukani berkata bahwa kemulyaan Lailatul Qadar mengharuskan Doa setiap orang pasti dikabulkan. (Tuhfatut Dzakirin )

12. PADA HARI ARAFAH
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya Nabi saw Bersabda” Sebaik-baik Doa adalah pada hari Arafah” ( Sunan at-Tirmizi, bab jamiud Da’awat).

Jumat, 22 Mei 2009

Nilai Dunia = Segelas air

Harun Al Rasyid adalah seorang khalifah yang terkenal dengan kebijakan dan kerendahan hatinya. Beliau tidak hanya adil terhadap kawan tapi juga bijak terhadap lawan. Dalam berbagai urusan beliau selalu bertanya kepada ahlinya. Selain dekat dengan bawahan, ia juga dekat dengan para ulama. Tak jarang Ia meminta nasihat kepada mereka. Bukan sebagai pemimpin Negara tapi sebagai murid.

Pada suatu hari ia bertanya kepada salah seorang ulama yang sudah dianggap dan diangkat sebagai penasehat. “ Wahai guru, sudah banyak pelajaran saya terima, banyak peringatan yang saya dengar, tapi, belum sedikitpun saya mendapat nasehat dari anda. Rasanya belum puas hati ini bila belum diberi nasehat.” Ujar Harun Ar Rasyid.
Sang Ulama diam sejenak. Sambil tersenyum ia berkata, “bolehkah saya meminta 2 gelas air putih, segelas untuk tuan dan segelas untuk saya.”

Dengaan sedikit keheranan Harun ar Rasyid memenuhi permintaan sang Ulama.
Begitu minuman tersebut tersedia diatas meja, Harun ar Rasyid diperkenankan untuk meminumnya. Namun, sebelum gelas tersebut sampai dibibir khalifah, ulama tersebut mencegahnya seraya berkata, “maaf Amirul mukminin, seandainya Tuan berada disebuah padang pasir yang gersang, sinar matahari memancar dengan terik, persediaan air Tuan tak ada lagi, diperkirakan tak lama lagi Tuan akan mati kehausan, tiba-tiba datang seseorang menawarkan segelas air, apakah Tuan akan menerimanaya?”
“ Ya,! Saya akan menerimanya. Dalam keadaan seperti itu, separuh kerajaan pun akan saya berikan untuk menebus segelas air yang ditawarkannya kepadaku.”
“ Tuan memang jujur,” ujar sang ulama.
Kemudian ia pun mengajak Harun ar Rasyid menghabiskan air dalam gelas masing-masing.
“Kini air sudah Tuan minum hingga tak tersisa. Namun masih ada kesulitan yang Tuan alami. Seandainya air tersebut tidak bisa di keluarkan dari tubuh Tuan sampai berhari-hari, yang mungkin akan menjadi penyakit yang mematikan, berapa Tuan mau bayar supaya air tersebut bisa dikeluarkan?” tanya ulama lagi.
Sang Khalifah diam sejenak. “Berapa pun akan saya bayar,” jawabnya mantap.
“Walaupun Tuan diminta membaya dengan separuh kerajaan Tuan yang tersisa?” Tanya sang ulama. “Ya, saya akan membayar walaupun dengan separuh kerajaan sekalipun.”tambahnya yakin.

Mendengar jawawban Khalifah, Sang ulama pun menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan nasehatnya.
“Wahai Amirul mukminin, ternyata harga kerajaan yang Tuan miliki sangat tidak berarti di sisi Allah, seluruh kerajaan yang Tuan banggakan, harganya tak lebih dari segelas air belaka. Separuh kerajaan untuk menebus kehaussan Tuan dan separuhnya lagi untuk membayar agar Tuan bisa mengeluarkan air yang Tuan minum dari tubuh Tuan. Begitulah nilai kerajaan Tuan di banding kekuasaan Allah Robbul ‘alamin., dan inilah nasehat saya..

Kamis, 07 Mei 2009

Jangan (hanya) menyalahkan Takdir

Takdir berasal dari akar kata qodaro-yaqduru-qodiron-takdiro yang artinya “Engkau menentukan”. Makna secara umum dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang sudah ditentukan oleh yang Maha Pengatur. Kita sering kali mengucapkan kata takdir, yang kita tak mengerti apa maknanya,sebagian besar ditujukan untuk keadaan yang tidak menguntungkan. Dalam hidup terkadang kita berada dalam keadaan macet atau bahkan mundur atau bangkrut, baik dalam hal ekonomi, pekerjaan, bisnis dan lain sebagainya, Seringkali TAKDIR menjadi kambing hitam. “yachh sudah takdir saya seperti ini, mau bagaimana lagi,…”, disadari atau tidak kalimat tersebut sering terucapkan dari mulut kita, seakan-akan “takdir” lah yang menjadi penyebab semua kegagalan yang kita alami. Takdir kah yang salah..? bukankah yang mentakdirkan semuanya adalah Allah sang Malikul Mulk..? bukankah Allah senantiasa menghendaki hamba-hambaNya menjadi hamba yang sholeh, beruntung, dan jadi pemenang,..?
Untuk mendapatkan jawabannya, coba kita simak ayat-ayat, hadits dan riwayat-riwayat dibawah ini;

(QS: Al Anfal : 53)
Artinya:
Yang demikian itu adalah sesungguhnya Allah tidak akan merubah nikmat yang telah dianugerahkannya kepada suatu kaum, hingga suatu kaum tersebut yang mengubah apa yang ada pada mereka.

(QS.Ar Ro’d : 11)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubahnya sendiri.


Artinya:
Aku (kata Allah) bergantung pada prasangka hambaku

1. Suatu hari Rosul SAW berkesempatan menjenguk seorang arab Badui yang menderita sakit demam dengan berkata”semoga penyakitmu menjadi penebus dosa-dosamu”, kemudian dijawab oleh orang Badui tersebut “akan tetapi, ini seolah-olah membakar tubuh yang renta dan tidak berdaya ini, hingga serasa ingin menyeretku ke dalam kubur”. Mendengar jawaban itu Rasul-pun berkata “Jika itu yang seakan-akan menimpamu, maka itulah yang akan kau rasakan”.
2. Dalam sebuah perjalanan perang tersiarlah kabar bahwa kota yang akan dimasuki oleh tentara muslim, sedang terjangkit wabah penyakit menular. Maka Umar bin Khatab selaku pimpinan mengurungkan rencananya memasuki kota tersebut. Seorang sahabat protes atas kebijakan Umar sambil bertanya “Wahai Umar, apakah engkau akan menghindar dari takdir yang telah digariskan kepada kita?” jawab Umar “Tidak, aku hanya berpindah dari satu takdir kepada takdir yang lain”

Apa yang bisa kita petik dari uraian ayat-ayat, hadist dan riwayat-riwayat di atas?
Allah Sang Pengatur telah menentukan takdir kita bergantung pada bagaimana pikiran, sikap dan perbuatan kita, yang akhirnya berujung pada takdir Tuhan. Kekuasaan Tuhan yang menentukan roda perjalanan hidup kita sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Apa yang dialami atau didapat seseorang dalam hidupnya adalah karena akibat langsung dari jalan pikirannya sendiri.

Mengapa kita tidak pernah jujur mengakui…
Mengapa kita selalu menyiksa diri dengan diam dan menerima kenyataan tanpa berusaha untuk merubahnya
You can if you think you can
Do for everything you can make possible for that impossible